Sejarah PFI

Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI) dilahirkan pada tanggal 5 Agustus 1970 di Perkebunan Teh PT. Pagilaran, Pekalongan (sekarang masuk wilayah Kabupaten Batang), Jawa Tengah. PFI dibentuk dengan tujuan untuk menghimpun para peminat dalam rangka memajukan fitopatologi dengan segala cabang-cabangnya dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan umum.
Ketua PFI yang pertama kali dijabat oleh Ir. Haryono Semangun yang merupakan salah satu penggagas dan pendiri PFI. Ketua PFI pada umumnya dijabat selama 2 tahun dan dipilih pada satu orang yang menetap pada tempat Kongres berikutnya akan diselenggarakan. Sekretaris Jenderal berkedudukan tetap di Yogyakarta dan dijabat dalam satu periode selama enam tahun.

Kongres PFI dilaksanakan setiap 2 tahun sekali dan dalam waktu yang bersamaan juga diselenggarakan Pertemuan Ilmiah PFI yang dihadiri tidak hanya anggota PFI saja tetapi juga peserta dan tamu undangan dari manca negara. Berikut adalah pelaksanaan Kongres PFI:

NO.KONGRES PFITAHUNTEMPAT
1Kongres I1970Pekalongan
2Kongres II1972Yogyakarta
3Kongres III1974Bogor
4Kongres IV1976Bandung
5Kongres V1979Malang
6Kongres VI1981Bukit Tinggi
7Kongres VII1983Medan
8Kongres VIII1985Jakarta
9Kongres IX1987Surabaya
10Kongres X1989Denpasar
11Kongres XI1991Makassar
12Kongres XII1993Yogyakarta
13Kongres XIII1995Mataram
14Kongres XIV1997Palembang
15Kongres XV1999Purwokerto
16Kongres XVI2001Bogor
17Kongres XVII2003Bandung
18Kongres XVIII2005Malang
19Kongres XIX2007Yogyakarta
20Kongres XX2009Makassar
21Kongres XXI2011Solo

KONGRES XXV DAN SEMINAR NASIONAL PFI

Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI) menyelenggarakan Kongres XXV dan Seminar Nasional pada 17-19 September 2019 di Banjarbaru Kalimantan Selatan. Seminar dibuka okeh Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan. Pembicara utama pada seminar adalah Kepala Badan Karantina Pertanian, Prof Andrey dari Australia, dan Prof. Loekas Soetanto dari Universitas Jenderal Soedirman. Sejumlah 150 peserta dari berbagai provinsi memresentasikan makalahnya. Tema yang diusung dalam Kongres XXV dan Seminar adalah “Fitopatologi Bergerak Mendukung Keamanan Pangan dengan Memperhatikan Fungsi Pelestarian Lingkungan”. Pada malam harinya, para peserta dijamu oleh Walikota Banjarbaru dalam acara Welcome Dinner.

KUNJUNGAN KETUA PANITIA KONGRES XXV DAN SEMINAR ILMIAH PFI KE SEKRETARIAT PFI

Kongres XXV dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI) akan diselenggarakan pada 17-19 September 2019 di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dr. Yusriadi selaku Ketua Panitia Kongres XXV dan Seminar Ilmiah PFI telah mengadakan kunjungan ke Sekretariat PFI dan diterima oleh Prof. Achmadi Priyatmojo selaku Sekjen PFI. Pada kesempatan itu, Yusriadi melaporkan bahwa penitia telah siap menerima para peserta Kongres XXV dan Seminar Ilmiah PFI. Pada Kongres XXV kali ini akan ada pemilihan Ketua Pengganti PFI periode 2019-2021 dan Sekjen PFI periode 2019-2025. Acara Seminar akan diisi oleh oleh pembicara kunci yakni dari Kementerian Pertanian RI, Badan Karatina Pertanian, dan Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional. Makalah pendukung yang akan dipresentasikan ada sekitar 130 dari berbagai disiplin ilmu.

MENGENANG KELAHIRAN PERHIMPUNAN FITOPATOLOGI INDONESIA (PFI)

Sejak tahun 1960-an para fitopatologiwan Indonesia merasa bahwa kemajuan fitopatologi di negara ini sangat tergantung dari kerja sama antara mereka. Pada tahun 1964, pada suatu kesempatan untuk berkumpul di Bogor, A. Hidir Sastraatmadja, Sulaiman Tirtawidjaja, Jusup Sutakaria, Sutrisno Hadi, dan Haryono Semangun membicarakan kemungkinan pembentukan organisasi profesi untuk mewadahi para fitopatologiwan Indonesia. Namun karena pada saat itu jumlah fitopatologiwan masih terlalu sedikit, keinginan untuk membentuk perhimpunan ditunda untuk sementara waktu.

Pada permulaan tahun 1970 mulai dilakukan pertemuan-pertemuan setempat antara para fitopatologiwan yang bekerja di Bogor dan yang bekerja di Yogyakarta untuk mempersiapkan pembentukan organisasi. Setelah dilakukan beberapa kali pembicaraan antara Rusmilah Suseno dan Haryono Semangun, berturut-turut sebagai wakil kelompok Bogor dan kelompok Yogyakarta, diputuskan untuk menyelenggarakan pertemuan antara para fitopatologiwan Indonesia pada tanggal 3 – 5 Agustus 1970 di Perkebunan Pagilaran, satu perkebunan teh milik Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, lebih kurang 40 km sebelah tenggara Kota Pekalongan, termasuk Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dengan menyelenggarakan pertemuan di Pagilaran biaya dapat sangat ditekan. Pada waktu itu Haryono Semangun adalah Dekan Fakultas Pertanian UGM yang merangkap sebagai Direktur Perkebunan Pagilaran.

Pertemuan diselenggarakan sesuai dengan rencana, 3 – 5 Agustus 1970, dihadiri oleh 29 peserta. Prof. Dr. Toyib Hadiwijaya, Menteri Pertanian RI pada waktu itu, yang juga seorang fitopatologiwan senior, berhalangan hadir, tetapi mengirimkan sambutan tertulis yang dibacakan oleh Sunardi dari Dinas Proteksi Tanaman Pusat, Departemen Pertanian. Pertemuan ini dinyatakan sebagai Kongres yang membicarakan masalah organisasi, yang disertai dengan Seminar Ilmiah untuk membahas hasil-hasil penelitian. Peninjauan lapangan (field trip) dilakukan dengan mengamati bermacam-macam penyakit teh di Kebun Pagilaran, khususnya bermacam-macam jamur akar. Rapat-rapat yang penuh dengan rasa kekeluargaan dilaksanakan di rumah Pemimpin (Administratur) Kebun Pagilaran. Semua peserta ditampung di rumah administratur, rumah staf kebun, dan asrama yang baru selesai dibangun menjelang kongres.

Pada kongres yang pertama ini diputuskan untuk membentuk organisasi profesi dengan nama Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI). Kongres membentuk Panitia Lima yang ditugasi untuk menyusun Anggaran Dasar organisasi yang terdiri atas Mien A. Rifai, Sismadi, Jusup Sutakaria, A. Hidir Sastraatmadja, dan Triharso. Setelah bekerja semalam suntuk dengan semangat yang berkobar-kobar Panitia berhasil menyusun Anggaran Dasar Perhimpunan Fitopatologi Indonesia yang disahkan tanggal 5 Agustus 1970. Dalam Anggaran Dasar ditentukan bahwa Kongres dan Seminar Ilmiah paling sedikit diselenggarakan 2 tahun  sekali.
Kongres menyusun Rencana Kerja untuk memajukan Fitopatologi di Indonesia melalui pendidikan, penelitian, penyusunan buku, publikasi, dan kerja sama di dalam maupun ke luar negeri. Kongres menyadari bahwa jumlah fitopatologiwan di Indonesia masih sedikit, sedangkan tugas yang menunggu sedemikian banyak, sehingga perlu dilakukan pembagian kerja.

Sebagai Pengurus pertama, Kongres menentukan sebagai berikut:

Ketua:Haryono Semangun
Ketua Pengganti:A. Hidir Sastraatmadja
Sekretaris:Triharso
Bendahara:Ida Nyoman Oka
Anggota:Mien A. Rifai (Mikologi)
Sulaiman Tirtawidjaja (Virologi)
Tony Kuntohartono (Pengendalian gulma)
Sunardi (Proteksi Tanaman)
Komisariat:Rusmilah Suseno (Bogor)
Toekidjo Martoredjo (Yogyakarta)

Risalah (Proceeding) Kongres I Perhimpunan Fitopatologi Indonesia di Pagilaran diterbitkan oleh PFI sebagai buku dengan judul Masalah Penyakit Tumbuhan di Indonesia.

Pengurus-baru bekerja dengan giat. Atas usul Sunardi, PFI yang masih sangat muda itu merencanakan untuk menyelenggarakan Kongres II di Yogyakarta tahun 1972 sambil mengadakan satu pertemuan internasional. Sesuai dengan semangat ASEAN (yang dibentuk  tahun 1967), tanggal 11 – 15 September 1972 PFI menyelenggarakan South-East Asia Regional Symposium on Plant Diseases in the Tropics bertempat di Fakultas Pertanian UGM. Pertemuan ini didukung oleh South East Asia Regional Center for Tropical Biology (Biotrop), Rockefeller Foundation, dan Ford Foundation, dihadiri oleh fitopatologiwan dari Amerika Serikat, Filipina, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, dan Thailand. Pertemuan berhasil meningkatkan kerja sama antara para fitopatologiwan ASEAN dan juga para fitopatologiwan tropika pada umumnya. Disayangkan bahwa karena kesulitan dana pada waktu itu, risalah (proceeding) simposium ini tidak berhasil diterbitkan.

Sekarang kita berada pada tahun 2012, 42 tahun sesudah peristiwa bersejarah yang terjadi di Pagilaran. Memperhatikan perkembangan PFI sejak lahirnya, kita para saksi hidup merasa sangat bangga. Pada saat pembentukannya  PFI hanya mempunyai 29 orang anggota yang masih muda-muda, hanya beberapa orang yang berderajat doktor, dan satu orang gurubesar. Sekarang PFI mempunyai lebih kurang 400 anggota dengan banyak doktor dan gurubesar. Dari 2 komisariat daerah yang ada, Bogor dan Yogyakarta, dewasa ini PFI mempunyai 24 komisariat daerah di seluruh Indonesia. Banyak keputusan yang diambil tahun 1970 dapat terlaksana dengan baik. Di antaranya terciptanya istilah-istilah fitopatologi dan mikologi. Untuk pengajaran sudah ditulis beberapa buku ajar (textbook) dan buku pegangan (handbook, manual) yang berdasarkan kondisi Indonesia. Sampai sekarang PFI berhasil mempertahankan frekuensi kongres dan seminar ilmiahnya yang 2 tahun sekali itu. Pada bulan Desember 2011 PFI menyelenggarakan Kongresnya yang ke-21 bertempat di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.

Pada kesempatan untuk merayakan umur 42 tahun PFI kita perlu mengenang dengan rasa hormat para fitopatologiwan yang aktif dalam pembentukan PFI di Pagilaran, yang telah mendahului kita menghadap kehadiran Tuhan yang Mahaesa, yaitu Sunardi, Sutono, Sulaiman Tirtawidjaja, Triharso, Billy Supadmo, Turngadi, Suharsono Sumomarto, Jusup Sutakaria, A. Hidir Sastraatmadja, Sediyono Donowidjoyo, Sukasman, Soal Herudjito, Siti Sutarmi Tjitrasoma,  dan Rusmilah Suseno.

Yogyakarta, 30 Januari 2012

Jurnal Fitopatologi Indonesia menangkan hibah insentif 2016

Jurnal Fitopatologi Indonesia (JFI) berhasil memenangkan hibah insentif jurnal yang memenuhi kriteria standar mutu tata kelola nasional tahun 2016. Hibah yang diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tersebut merupakan salah satu pengakuan bahwa JFI merupakan salah satu jurnal ilmiah yang bermutu dan dikelola secara baik. JFI yang telah terakreditasi sejak 11 Februari 2015 berdasarkan SK Dirjen Dikti Nomor: 12/M/Kp/II/2015 telah terbit secara rutin sebanyak 6 edisi setiap tahunnya. Prof. Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M.Sc, selaku Ketua Dewan Penyunting JFI mengharapkan dengan adanya hibah yang diterima ini  kualitas JFI terus meningkat dan kontinuitas penerbitan terus terjaga.