News

MENGENANG KELAHIRAN
PERHIMPUNAN FITOPATOLOGI INDONESIA (PFI)

Haryono Semangun

Sejak tahun 1960-an para fitopatologiwan Indonesia merasa bahwa kemajuan fitopatologi di negara ini sangat tergantung dari kerja sama antara mereka. Pada tahun 1964, pada suatu kesempatan untuk berkumpul di Bogor, A. Hidir Sastraatmadja, Sulaiman Tirtawidjaja, Jusup Sutakaria, Sutrisno Hadi, dan Haryono Semangun membicarakan kemungkinan pembentukan organisasi profesi untuk mewadahi para fitopatologiwan Indonesia. Namun karena pada saat itu jumlah fitopatologiwan masih terlalu sedikit, keinginan untuk membentuk perhimpunan ditunda untuk sementara waktu.

Pada permulaan tahun 1970 mulai dilakukan pertemuan-pertemuan setempat antara para fitopatologiwan yang bekerja di Bogor dan yang bekerja di Yogyakarta untuk mempersiapkan pembentukan organisasi. Setelah dilakukan beberapa kali pembicaraan antara Rusmilah Suseno dan Haryono Semangun, berturut-turut sebagai wakil kelompok Bogor dan kelompok Yogyakarta, diputuskan untuk menyelenggarakan pertemuan antara para fitopatologiwan Indonesia pada tanggal 3 – 5 Agustus 1970 di Perkebunan Pagilaran, satu perkebunan teh milik Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, lebih kurang 40 km sebelah tenggara Kota Pekalongan, termasuk Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dengan menyelenggarakan pertemuan di Pagilaran biaya dapat sangat ditekan. Pada waktu itu Haryono Semangun adalah Dekan Fakultas Pertanian UGM yang merangkap sebagai Direktur Perkebunan Pagilaran.

Pertemuan diselenggarakan sesuai dengan rencana, 3 – 5 Agustus 1970, dihadiri oleh 29 peserta. Prof. Dr. Toyib Hadiwijaya, Menteri Pertanian RI pada waktu itu, yang juga seorang fitopatologiwan senior, berhalangan hadir, tetapi mengirimkan sambutan tertulis yang dibacakan oleh Sunardi dari Dinas Proteksi Tanaman Pusat, Departemen Pertanian. Pertemuan ini dinyatakan sebagai Kongres yang membicarakan masalah organisasi, yang disertai dengan Seminar Ilmiah untuk membahas hasil-hasil penelitian. Peninjauan lapangan (field trip) dilakukan dengan mengamati bermacam-macam penyakit teh di Kebun Pagilaran, khususnya bermacam-macam jamur akar. Rapat-rapat yang penuh dengan rasa kekeluargaan dilaksanakan di rumah Pemimpin (Administratur) Kebun Pagilaran. Semua peserta ditampung di rumah administratur, rumah staf kebun, dan asrama yang baru selesai dibangun menjelang kongres.

Pada kongres yang pertama ini diputuskan untuk membentuk organisasi profesi dengan nama Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI). Kongres membentuk Panitia Lima yang ditugasi untuk menyusun Anggaran Dasar organisasi yang terdiri atas Mien A. Rifai, Sismadi, Jusup Sutakaria, A. Hidir Sastraatmadja, dan Triharso. Setelah bekerja semalam suntuk dengan semangat yang berkobar-kobar Panitia berhasil menyusun Anggaran Dasar Perhimpunan Fitopatologi Indonesia yang disahkan tanggal 5 Agustus 1970. Dalam Anggaran Dasar ditentukan bahwa Kongres dan Seminar Ilmiah paling sedikit diselenggarakan 2 tahun  sekali.
Kongres menyusun Rencana Kerja untuk memajukan Fitopatologi di Indonesia melalui pendidikan, penelitian, penyusunan buku, publikasi, dan kerja sama di dalam maupun ke luar negeri. Kongres menyadari bahwa jumlah fitopatologiwan di Indonesia masih sedikit, sedangkan tugas yang menunggu sedemikian banyak, sehingga perlu dilakukan pembagian kerja.

Sebagai Pengurus pertama, Kongres menentukan sebagai berikut:

Ketua : Haryono Semangun
Ketua Pengganti : A. Hidir Sastraatmadja
Sekretaris : Triharso
Bendahara : Ida Nyoman Oka
Anggota : Mien A. Rifai (Mikologi)
Sulaiman Tirtawidjaja (Virologi)
Tony Kuntohartono (Pengendalian gulma)
Sunardi (Proteksi Tanaman)
Komisariat : Rusmilah Suseno (Bogor)
Toekidjo Martoredjo (Yogyakarta)

Risalah (Proceeding) Kongres I Perhimpunan Fitopatologi Indonesia di Pagilaran diterbitkan oleh PFI sebagai buku dengan judul Masalah Penyakit Tumbuhan di Indonesia.

Pengurus-baru bekerja dengan giat. Atas usul Sunardi, PFI yang masih sangat muda itu merencanakan untuk menyelenggarakan Kongres II di Yogyakarta tahun 1972 sambil mengadakan satu pertemuan internasional. Sesuai dengan semangat ASEAN (yang dibentuk  tahun 1967), tanggal 11 – 15 September 1972 PFI menyelenggarakan South-East Asia Regional Symposium on Plant Diseases in the Tropics bertempat di Fakultas Pertanian UGM. Pertemuan ini didukung oleh South East Asia Regional Center for Tropical Biology (Biotrop), Rockefeller Foundation, dan Ford Foundation, dihadiri oleh fitopatologiwan dari Amerika Serikat, Filipina, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, dan Thailand. Pertemuan berhasil meningkatkan kerja sama antara para fitopatologiwan ASEAN dan juga para fitopatologiwan tropika pada umumnya. Disayangkan bahwa karena kesulitan dana pada waktu itu, risalah (proceeding) simposium ini tidak berhasil diterbitkan.

Sekarang kita berada pada tahun 2012, 42 tahun sesudah peristiwa bersejarah yang terjadi di Pagilaran. Memperhatikan perkembangan PFI sejak lahirnya, kita para saksi hidup merasa sangat bangga. Pada saat pembentukannya  PFI hanya mempunyai 29 orang anggota yang masih muda-muda, hanya beberapa orang yang berderajat doktor, dan satu orang gurubesar. Sekarang PFI mempunyai lebih kurang 400 anggota dengan banyak doktor dan gurubesar. Dari 2 komisariat daerah yang ada, Bogor dan Yogyakarta, dewasa ini PFI mempunyai 24 komisariat daerah di seluruh Indonesia. Banyak keputusan yang diambil tahun 1970 dapat terlaksana dengan baik. Di antaranya terciptanya istilah-istilah fitopatologi dan mikologi. Untuk pengajaran sudah ditulis beberapa buku ajar (textbook) dan buku pegangan (handbook, manual) yang berdasarkan kondisi Indonesia. Sampai sekarang PFI berhasil mempertahankan frekuensi kongres dan seminar ilmiahnya yang 2 tahun sekali itu. Pada bulan Desember 2011 PFI menyelenggarakan Kongresnya yang ke-21 bertempat di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.

Pada kesempatan untuk merayakan umur 42 tahun PFI kita perlu mengenang dengan rasa hormat para fitopatologiwan yang aktif dalam pembentukan PFI di Pagilaran, yang telah mendahului kita menghadap kehadiran Tuhan yang Mahaesa, yaitu Sunardi, Sutono, Sulaiman Tirtawidjaja, Triharso, Billy Supadmo, Turngadi, Suharsono Sumomarto, Jusup Sutakaria, A. Hidir Sastraatmadja, Sediyono Donowidjoyo, Sukasman, Soal Herudjito, Siti Sutarmi Tjitrasoma,  dan Rusmilah Suseno.

 

Yogyakarta, 30 Januari 2012

@2012 Perhimpunan Fitopatologi Indonesia